Selasa, 03 November 2009

fase kedua :)

wahaa lama sekali saya ga mengupdate blog ini..bukannya sengaja..
belakangan otak saya mampat, sering ada ide-ide yang mau dituangkan lewat tulisan, tapi kemudian terhenti oleh sesuatu, entah apa, entah kenapa..
sampai kemarin saya baru membaca notes buatan salah satu penulis indonesia kesukaan saya, lalu jadi tersadar, ah saya terlalu jauh tertinggal di belakang..
gimana mau jadi penulis kalo update blog saja sebulan sekali, atau lebih..

tapi kali ini saya ga punya topik tertentu untuk dituliskan disini, bukan ga ada sih, tapi..ya begitulah..susah menuangkannya..
yang bisa saya share ya tentu aja apa yang paling banyak mengisi ruangan-ruangan di otak saya sekarang, which is karil-skripsi-tugas akhir-atau apalah namanya..
yaa bukannya menuduh nih, tapi jangan-jangan kamu ya yang menghambat kekreatifitasan saya menulis, wahai karil..

anyway, saya menganggap saat-saat penulisan karil-dan-masa-masa-menjelang-sidang ini sebagai salah satu fase yang sangat penting dalam hidup saya..
hampir bisa menyetarai fase saat saya sedang semangat-semangatnya, berapi-apinya menghadapi SPMB 3 tahun lalu..
saya suka merasakan semangat seperti ini, yang terus terang jarang saya rasakan..
saya suka merasakan tertantang oleh sesuatu-yang-saya-yakin-saya-bisa-menghadapinya-asal-usaha-keras..
saya suka merasakan semakin dekat dengan masa depan yang sepertinya menjanjikan..
saya suka merasakan deg-degan yang sering muncul tiba-tiba..
saya suka merasakan susah tidur karena tiba-tiba teringat sidang semakin dekat tapi penulisan karil saya belum tuntas, bahkan belum sampai analisis hasil..
saya suka membayangkan hari disaat mama dan papa bisa sedikit tersenyum bangga melihat saya sudah berhasil melewati salah satu fase penting dalam hidup saya..
saya suka mencoba menebak-nebak akan jadi apa saya di tahun-tahun ke depan..
saya suka sok-sok-an merancang konsep masa depan saya, akan bekerja dimana, akan menikah kapan dimana dan dengan orang seperti apa, akan mengambil spesialis apa dan kapan, akan punya anak berapa, akan beli rumah di daerah mana, akan liburan ke selandia baru kapan *tetep*

sadar atau tidak, mau atau tidak, saya sih merasa saya sudah semakin mendekati fase manusia dewasa *atau memang saya sudah ada disana ya?*, yah walaupun kelakuan terkadang masih tidak menggambarkan kedewasaan..tapi sekarang semuanya terasa semakin dekat..entah harus senang atau sedih, tapi saya semangat dan merasa tertantang..

marii, lanjutkan menulis karil :))
H-29

keep on struggling ya, people :DD

Rabu, 09 September 2009

Percikan

Ini terjadi lagi..
pertengkaran itu..
adu mulut itu..
adu emosi itu..
antara
saya..
dan
papa..

dan ini (selayaknya) membuat saya sedih..sangat sedih..sangat jatuh..

saya lelah pa..
lelah harus beradu emosi dulu untuk membuatmu sedikit tersadar bahwa papa juga terkadang bisa salah *bukan, papa saya bukan sosok papa yang otoriter, setidaknya tidak seekstrim itu*

saya lelah pa..
lelah selalu dibilang anak kecil yang sok tua saat saya mencoba mengingatkanmu bahwa terkadang apa yang papa pikirkan atau lakukan bisa saja konyol..bisa saja lebih childish dibanding yang anak TK pikirkan atau lakukan..

saya lelah pa..
lelah harus bertengkar mulut dengan nada tinggi di dalam rumah, disaksikan oleh mata adik-adik yang ketakutan, saat saya ingin menunjukkan bahwa saya totally tidak setuju dengan pendapatmu atau caramu atau pebuatanmu..

saya lelah pa..
lelah harus bertengkar dulu denganmu demi menunjukkan pembelaan terhadap mama yang seringkali mendapat perlakuan tidak menyenangkan darimu *bukan, ini bukan masalah kekerasan dalam rumah tangga, sama sekali. terkadang ada yang lebih menyakitkan dibanding kekerasan terhadap fisik, bukan?*

saya lelah pa..
lelah harus melawanmu..papa saya sendiri..karena terkadang papa bisa berubah menjadi sosok yang sangat saya benci..sangat saya benci.. *bukan, papa saya bukan sosok papa yang kejam, tukang mabuk-mabukan, tukang main perempuan, atau hal negatif lain yang terlintas di pikiran kalian*

saya lelah pa..
lelah harus perang dingin denganmu selama berhari-hari di dalam rumah pasca meledaknya perang antara kita..

saya lelah pa..
lelah harus berusaha menghindarimu di dalam rumah sendiri pada saat-saat perang dingin itu..harus menunggu satu sama lain untuk minta maaf lebih dulu..tapi maaf pa, apa karena status saya anak lalu harus selalu saya yang minta maaf lebih dulu? walaupun kesalahanmu terkadang jelas adanya..

saya lelah pa..
lelah harus dibilang sebagai anak durhaka olehmu setiap kita bertengkar..papa pikir kalimat itu tidak menyakiti saya?
walaupun kemudian akan saya jawab dengan : " orang tua seperti apa dulu yang pantas disebut didurhakai? "
kemudian emosimu akan lebih meningkat..
demikian juga emosi saya..
*bukan, papa saya tidak seburuk yang ada di pikiran kalian, sumpah*

saya lelah pa..
lelah dalam arti sebenarnya setiap kali selesai bertengkar denganmu..
apa papa tidak sadar bahwa tingkat emosi yang sama yang kita miliki itu karena apa?
karena saya anakmu..dan tingkat emosi saya yang terkadang bisa setinggi ini mengalir dari darahmu..saya mewarisi banyak hal darimu, termasuk ini..
itulah kenapa kalau kita sudah bertengkar rasa-rasanya tidak jauh berbeda dengan pengulangan rekaman perang dunia kedua *ini memang berlebihan*

saya lelah pa..
lelah harus memaki-makimu dalam hati maupun luar hati saat emosi saya berada di puncak karena bertengkar denganmu..

saya lelah pa..
lelah karena harus melupakan bahwa ini sudah dipastikan adalah dosa besar saya terhadapmu..tapi anehnya saya lebih sering tidak menyesal karena telah melakukannya..

saya lelah pa..
lelah karena terkadang harus membencimu..
namun sering sangat menyayangimu..

saya lelah karena saya tau papa sangat menyayangi saya..
namun papa jugalah rival terhebat saya di rumah ini..


Lucu..

maafkan saya pa karena sering melawanmu..
saya merasa berdosa , tapi kemudian lega telah melakukannya..
maafkan saya..

dan jangan lupa bahwa sifat pemberontak dan meledak-ledak ini turun darimu..
jangan lupa ya..hehe

bukan, keluarga saya bukan keluarga tidak bahagia, broken, atau apalah namanya..
kami keluarga bahagia, saling menyayangi dan melindungi satu sama lain..
tapi tetap saja kami adalah manusia-manusia berbeda yang dilahirkan dengan karakteristik masing-masing yang terkadang saat perbedaan itu bersinggungan akan menimbukan percikan-percikan yang besarnya bervariasi..
saat percikannya kecil saja, mungkin yang terjadi adalah pundungan kecil, perang dingin, wajah-wajah saling cemberut..
namun saat percikannya besar, yang paling sering terjadi pada saya dan papa, yang terjadi adalah adu emosi besar-besaran..

seperti itulah..
wajar bukan?

apa iya wajar?
haha


saya sudah lebih baik sekarang..
benar yang orang-orang bilang..
menulis yang paling baik adalah saat menulis apa yang sedang kita rasakan..
dan ini sangat mengalir..
sekarang saya sudah lega..


maaf ya, pa :))
mudah-mudahan Allah menyampaikan permohonan maaf ini ke papa..karena saya sering terlalu gengsi bahkan untuk sekedar minta maaf..
tapi jangan lupa lagi pa, yang satu ini pun saya wariskan darimu.. ;))

Selasa, 08 September 2009

perenungan diri

Hari minggu lalu, tukang sedot WC melancarkan aksinya di rumah gw..mereka datang siang bolong..tiba-tiba melintas dalam pemikiran gw : kasihan betul yang para petugas sedot WC itu, pekerjaannya sangat intim dengan kotoran manusia..
berhubungan dengan kotoran manusia udah bukan hal asing lagi buat mereka..sedangkan gw, masuk ke kamar mandi umum yang agak bau aja udah ogah..lebih milih untuk nahan pipis atau e*k..
buat mereka
e*k = duit = makan

kemudian pikiran gw melayang lagi *halah*..ga cuma para petugas WC aja yang profesinya bersentuhan dengan hal-hal -yang buat orang normal- menjijikkan..petugas sampah ga juga ga kalah..kesehariannya intim dengan sampah-sampah bekas konsumsi rumah tangga manusia, which is sangat beraneka ragam..belum lagi pemulung..bisa makan atau ga nya mereka hari itu sangat bergantung dengan jumlah sampah yang dihasilkan oleh pemakaian manusia lain..
buat mereka
sampah = duit = makan

sebetulnya mana ada orang yang bercita-cita untuk jadi petugas sedot WC atau tukang sampah..
semua orang yang dilahirkan ke dunia ini pasti punya cita-cita yang oke..mau jadi dokter *ehm ehm*, pilot, direktur perusahaan ternama, arsitek, artis, dan profesi-profesi lain..
semua orang pasti mengkhayalkan bisa bekerja di tempat yang nyaman, ber-AC, dengan kursi empuk, fasilitas memadai, gaji memanjakan..
lalu gimana dengan para petugas sedot WC atau petugas sampah tadi?
tentu aja mereka ga penah bercita-cita untuk jadi seperti itu..
tapi takdir berkata lain..

kadang kalo lagi nakal, gw suka punya pemikiran : gimana ya dengan orang yang dilahirkan dari keluarga miskin, kemungkinan ga punya kesempatan mendapat pendidikan yang layak (bukan berarti yang miskin ga mungkin bisa sekolah), kemudian jadi ga punya kesempatan untuk mendapat pekerjaan yang layak juga, ga punya kesempatan untuk mendapat kehidupan yang lebih layak, kemudian akan memperoleh keturunan berstatus "anak orang miskin" yang kedepaannya akan mengikuti jejak bapak dan ibunya, kemudian si bapak atau ibu tersebut tetap saja mati dalam keadaan miskin, ga pernah merasakan hidup layak..lahir miskin, mati tetap saja miskin..

mungkin pemikiran gw sempit..ada orang bilang, uang ga menentukan kebahagiaan seseorang, menurut gw bullshit..kalo ga punya uang lalu ga bisa makan, kelaparan..ga bisa sekolah, ga punya masa depan..ga punya tempat tinggal layak, kedinginan saat hujan kepanasan saat kemarau, ga bisa tidur nyenyak..apakan kondisi seperti itu bisa membahagiakan seseorang? walaupun hidupnya dipenuhi oleh cinta, yang katanya lebih bisa membahagiakan dibanding uang (baca: hidup berkecukupan)..non sense..

pelajaran yang bisa gw ambil dari memperhatikan profesi-profesi yang -tidak diinginkan oleh semua orang- tersebut adalah : lalu seberapa besar gw udah bersyukur atas apa yang gw punya?atas apa yang Allah udah kasih ke gw?

lahir dari keluarga yang cukup bisa membeli makanan layak setiap harinya, dilimpahi perhatian dan kasih sayang, bisa memperoleh pendidikan sampai jenjang universitas sekarang tanpa harus bekerja (tinggal minta duit ke orang tua), punya tempat tinggal yang layak..bisa tidur di kasur empuk, selimutan saat kedinginan, nyalain AC saat kepanasan..diberikan fasilitas yang mencukupi oleh orang tua..bisa internetan setiap hari sepuasnya di rumah.. masih bisa bersenang-senang sama keluarga atau teman-teman, sesekali masih bisa membeli kebutuhan-kebutuhan yang bukan primer, yang dibeli cuma karena pengen aja atau karena ngikutin trend..masih bisa sesekali beli baju saat ngerasa kuliah kayanya pake baju itu-itu terus, padahal sebetulnya lemari masih penuh kok..masih bisa sesekali beli buku bacaan cuma karena suka aja baca..masih bisa beli hp baru saat hp yang lama rusak atau udah ga gaul lagi..bisa sesekali pergi liburan keluar kota sama keluarga atau teman-teman..masih bisa beli pernak-pernik cewe cuma karena pengen aja..masih bisa berhaha-hihi tanpa beban sama teman-teman..masih bisa ke salon sesekali cuma buat creambath..masih bisa beli pajangan-pajangan ga penting buat di kamar cuma karena pengen aja..

sekarang ga usah jauh-jauh, tepat di seberang rumah gw, ada seorang pengemis duduk di pinggir got menunggu belas kasihan orang-orang yang lewat untuk memberinya beberapa duit receh untuknya makan hari ini..

lalu betapa kerdilnya gw kalo sampe saat ini masih lupa bersyukur..
betapa kerdilnya gw kalo ngambek saat kelamaan dibeliin hp baru karena yang lama rusak *curhat*..sedangkan banyak orang-orang diluar sana yang buat makan hari ini aja belum jelas bisa atau ga..terlalu tinggi buat mereka untuk mikirin sekolah, baju lebaran, hp baru, sepatu baru..(bukan, bukannya berarti bermimpi itu dilarang)

tapi ini realitanya..sering kita lupa bersyukur..
lebih sering kita menghitung apa-apa yang belum kita miliki dibanding menghitung apa-apa yang sudah kita punyai (baca: apa-apa yang sudah Allah limpahkan untuk kita)

lebih sering kita berpikir :enak betul jadi si A, bajunya mahal-mahal, sepatunya merk terkenal, cantik, banyak uang, sering liburan keluar negeri
dibanding : gw jauh lebih beruntung dibanding pengamen itu, dia harus panas-panasan di perempatan jalan untuk dapet uang-uang receh untuk makannya hari itu, badannya bau, rambutnya belum keramas berhari-hari, bajunya dekil, kukunya kotor, giginya kuning *hahah oke itu terlalu detil*

jadi..
tanyakanlah ke diri kita :

"seberapa sering saya bersyukur?"